Featured

Donasi

GAYa NUSANTARA sudah berdiri selama 29 tahun, dan kami masih ingin terus memperjuangkan apa yang menjadi hak teman-teman LGBTIQ di Indonesia.

Sudah banyak sekali dukungan yang telah diberikan kepada kami selama ini, baik itu berupa ide gerakan, tulisan, tenaga, dan uang dari Indonesia dan luar negeri.

Untuk terus dapat bergerak maju, GAYa NUSANTARA masih membutuhkan bantuan teman-teman.

Dukungan dapat ditujukan ke rekening:
BNI 0046219611, cabang UNAIR
a/n GAYa NUSANTARA

Jika mempunyai PayPal dan kartu kredit, anda dapat berdonasi melalui tombal dibawah

Donate

 

Pernyataan Sikap Kami Atas Pembubaran Paksa Pekan Olahraga & Seni (Porseni) Waria-Bissu Se-Sulawesi Selatan di Kabupaten Soppeng

Merujuk surat pernyataan sikap dari Federasi Arus Pelangi (http://www.plush.or.id/2017/01/pernyataan-sikap-federasi-arus-pelangi.html), YLBHI  bersama 15 LBH se-Indonesia (http://aruspelangi.org/siaran-pers/pernyataan-bersama-ylbhi-15-kantor-lbh-se-indonesia-pembubaran-paksa-porseni-waria-bissu-di-soppeng) dan LBH Masyarakat (http://lbhmasyarakat.org/rilis-pers-pembubaran-porseni) terkait pembubaran paksa Porseni Waria-Bissu se-Sulawesi Selatan, yang merupakan kegiatan tahunan yang ke-23 Forum Kerukunan Waria-Bissu Sulawesi Selatan pada tanggal 19 Januari 2017, di Soppeng, Sulawesi Selatan oleh Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan,

Yayasan GAYa NUSANTARA mengecam tindakan yang dilakukan oleh Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan itu. Polisi tidak hanya menggagalkan Porseni, tetapi juga menciptakan teror dan rasa takut dengan memberikan tembakan peringatan untuk membubarkan peserta. Pembubaran paksa ini menambah daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia dan kekerasan terhadap kelompok LGBTIQ+ di Indonesia.

Dalam semua kasus tersebut, polisi menolak bertanggung jawab atas serangan oleh kelompok antidemokrasi. Alih-alih menjalankan mandatnya melindungi segenap warga negara, polisi justru merenggut hak warga negara dalam berkumpul, dan berpendapat.

Berdasarkan  hal tersebut di atas, Yayasan GAYa NUSANTARA menuntut:

  1. Presiden Joko Widodo agar konsisten dengan pernyataannya dalam wawancara dengan BBC bahwa hak-hak LGBT akan dilindungi.
  2. Wakil Presiden M. Jusuf Kalla, yang nota bene berasal dari Sulawesi Selatan dan suku Bugis, agar konsisten dengan dukungannya terhadap penerbitan epos La Galigo, di mana calabai (waria), calalai dan bissu mendapatkan tempat terhormat.
  3. Pemerintah Republik Indonesia untuk mengusut dan menindak tegas tindakan inkonstitusional Gubernur Sulawesi Selatan, Bupati Soppeng, Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan, dan Kepolisian Resort Kabupaten Soppeng yang tidak memberikan jaminan rasa aman terhadap warga negara, dalam hal ini khususnya para waria-bissu dan masyarakat Soppeng.
  4. Pemerintah Republik Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia untuk mengambil sikap tegas terhadap tindak-tindak kekerasan dan ancaman yang dilakukan oleh kelompok-kelompok intoleran seperti FUIS (Forum Umat Islam Soppeng).
  5. Kepolisian Republik Indonesia untuk menjalankan mandatnya melindungi warga Negara, yang telah tertuang jelas dalam Tri Brata dan Catur Prasetya Kepolisian Republik Indonesia (UU Kepolisian RI).
  6. Mendesak Komnas HAM untuk melakukan pemantauan lapangan atas tindakan pelanggaran HAM oleh pihak Kepolisian dan pemerintah daerah terkait pembubaran kegiatan budaya Porseni Waria-Bissu Sulawesi Selatan, dan mendorong adanya pertanggungjawaban HAM oleh Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan.

Surabaya, 21 Januari 2017

Dede Oetomo (Dewan Pembina Yayasan GAYa NUSANTARA)
Rafael H da Costa (Ketua Yayasan)
Slamet (Sekretaris Yayasan)

 

Penjelasan Pembatalan Acara One Day One Struggle 2016 – Regarding Cancellation of One Day One Struggle 2016

[English below]

Kami Pengurus Yayasan GAYa NUSANTARA, sebagai anggota Coalition for Sexual and Bodily Rights in Muslim Societies (CSBR, www.csbronline.org), dengan ini mohon maaf sedalam-dalamnya atas pembatalan mendadak acara One Day One Struggle 2016 berupa pemutaran film “Calalai: In-Betweenness” dan diskusi tentang Islam Nusantara dan keberagaman gender dan seksualitas, yang sedianya akan digelar di Auditorium Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya pada malam hari tgl 16 November 2016. Kami mohon maaf kepada kawan-kawan yang tidak sempat kami beritahu tentang pembatalan ini, dan kepada Sdr. Aan Anshori, yang rencananya akanmembahas film itu dari kerangka Islam Nusantara.

Pada hari berlangsungnya acara, kami mendapat informasi bahwa kelompok-kelompok intoleran garis keras mengetahui acara ini dan ada kemungkinan akan mengganggu pemutaran film. Mengetahui kabar ini, pihak-pihak penyelenggara bertemu dan memutuskan untuk membatalkan acara.

Pengurus GAYa NUSANTARA tentu saja sangat kecewa dan terganggu karena untuk kesekian kalinya kebebasan berekspresi, kebebasan berkumpul, kebebasan menuntut ilmu tidak dilindungi. Peristiwa ini membuat kami mempertanyakan kesungguhan untuk melindungi LGBT dan kaum minoritas lainnya


We, the Board of GAYa NUSANTARA Foundation, a member of the Coalition for Sexual and Bodily Rights in Muslim Societies (CSBR, www.csbronline.org), hereby apologize profusely over the sudden cancellation of the event One Day One Struggle in 2016 in the form of the film “Calalai: In-Betweenness”and a discussion about Islam Nusantara and diversity of gender and sexuality, which was originally to be held in the Auditorium of Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya in the evening of 16 November 2016. We apologize to the friends whom we were not able to tell about this cancellation, to Aan Anshori, who was scheduled to discuss the film from an Islam Nusantara framework.

The day of the event, we were informed that some extremist groups were aware of the event and may disturb the screening. Following that news, the parties involved decided to gather and cancel the event.

The Board of GAYa NUSANTARA is of course very disappointed and disturbed that freedom of expression, freedom of assembly, and freedom of information have not been respected for the umpteenth time. This raises questions about the true willingness to protect LGBT and other minorities.