Webinar, “Bringing Progressive Faith Voices toward Diverse Genders and Sexualities”

“LGBTIQ would be the test of the truth of all religions, because if the religions cannot embrace every member of the human race, then it means that the religion is not itself fulfilling its own divine universal purpose”

Dr amina wadud

Webinar, “Bringing Progressive Faith Voices toward Diverse Genders and Sexualities” & Booklet Discussion, “Christian-Islam Progressive Interpretation of Gender Diversity & Sexuality,” 18 May 2018, 8:00-10:00 am UTC To mark IDAHOBIT 2020, GAYa NUSANTARA (GN, https://gayanusantara.or.id), with the Coalition for Sexual and Bodily Rights in Muslim Societies (CSBR, https://csbronline.org) and the Global Interfaith Network (GIN, https://www.gin-ssogie.org), hosted a historical webinar entitled “Bringing Progressive Faith Voices toward Diverse Gender and Sexualities” and which notably included a discussion on the newly released booklet “Christian-Islam Progressive Interpretation of Gender Diversity and Sexuality.”

The event was intended for all communities of faith and allies to amplify progressive faith voices in respect to diverse gender and sexualities. For 2 hours from 8:00 am UTC on Monday 18 May 2020, we brought together voices from Islam and Christianity across Asia Pacific and beyond.

Speakers: – Pastor Kakay Pamaran, a gender justice advocate and Bible teacher – Dr amina wadud, specialist in textual analysis from a gender and sexuality inclusive perspective, best known as the Lady Imam – Dede Oetomo, independent scholar and founder of GAYa NUSANTARA.

Moderator: Rima Athar, human rights activist and feminist organiser.

The 2-hr webinar also included artistic performances: Sheena Baharudin (https://instagram.com/sheenabaharudin & https://facebook.com/SheenaBaharudin) opened by reading her amazing poetry and Pastor Kakay Pamaran closed with a song.

Email us at strongindiversity.gn@gmail.com for any questions and a copy of the booklet. #breakingthesilence #idahobit2020

Pernyataan Sikap Penggerebekan “Pesta Sex”

Pernyataan Sikap Terkait Penggerebekan ‘Pesta Seks’ Gay di Hotel Oval, Surabaya, 30 April 2017

Dalam menyikapi kasus ini, kami dari Yayasan GAYa NUSANTARA Surabaya telah melakukan konsultasi dan komunikasi dengan berbagai pihak terkait, baik lokal maupun nasional, seperti : LBH Surabaya, KontraS, CMars, Arus Pelangi, Suara Kita dan YLBHI. Upaya ini dilakukan untuk pendampingan hukum dan sosial bagi 14 orang yang ditahan dengan tuduhan pidana UU Pornografi (pasal 32, 33 dan 34) dan UU ITE (pasal 45).

Yayasan GAYa NUSANTARA bersama CMars sudah berkunjung ke ruang tahanan Polrestabes Surabaya, namun masih belum mendapatkan banyak informasi karena keterbatasan waktu berkunjung. Kegiatan selanjutnya akan dilakukan oleh LBH Surabaya sebagai Pendamping Hukum.

Surabaya, 03 Mei 2017
Yayasan GAYa NUSANTARA

Bissu, atau imam transgender, adalah salah satu dari lima jenis kelamin[¹] yang diakui oleh Bugis

Penulis:
Sharyn Graham Davies
Guru Besar Madya Ilmu-ilmu Sosial, Auckland University of Technology

Tulisan asli dimuat sebagai https://theconversation.com/what-we-can-learn-from-an-indonesian-ethnicity-that-recognizes-five-genders-60775. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dikerjakan oleh Kathleen Azali, dengan suntingan akhir oleh Dédé Oetomo. GAYa NUSANTARA mengucapkan terima kasih kepada Sharyn dan Kat, dan Auckland University of Technology (yang menyediakan dana penerjemahan).

Pada tanggal 13 Juni, ketika seorang hakim di Oregon memperbolehkan orang untuk secara legal memilih tidak diklasifikasikan sebagai laki-laki ataupun perempuan, atau sebagai “non-biner”, para aktivis transgender bersukacita. Ini dianggap sebagai keputusan penting di negara yang hingga sejauh ini, menuntut orang untuk menandai jenis kelamin “laki-laki” atau “perempuan” dalam dokumen identitas resmi.

Kemenangan kecil tersebut timbul di tengah-tengah kontroversi undang-undang baru di North Carolina yang menghalangi orang-orang transgender menggunakan toilet umum yang tidak cocok dengan jenis kelamin di akte kelahiran mereka.

Konflik yang berakar dalam kebijakan-kebijakan ini bukanlah hal yang baru. Selama bertahun-tahun, orang telah mempertanyakan apakah bentuk “jenis kelamin” di mana kita dilahirkan harus mendikte hal-hal seperti fasilitas umum yang dapat kita gunakan, apa yang harus dicawang dalam aplikasi paspor, dan siapa yang dapat turut serta berpartisipasi dalam tim olahraga tertentu.

Tapi bagaimana jika jenis kelamin dilihat dengan cara yang sama seperti peneliti Alfred Kinsey menggambarkan seksualitas — sebagai sesuatu dalam skala yang dapat bergeser?

Bahkan, ada satu suku di Sulawesi Selatan, Indonesia — Bugis — yang memandang jenis kelamin dengan cara seperti ini. Untuk penelitian S3, saya tinggal di Sulawesi Selatan pada akhir 1990-an untuk mempelajari lebih lanjut berbagai cara masyarakat Bugis memahami seks dan gender. Saya akhirnya menuliskan pemahaman mereka dalam buku saya, “Gender Diversity in Indonesia.”


¹Penerjemah memilih istilah “jenis kelamin” agar tulisan ini terkesan akrab bagi orang kebanyakan. Di lingkungan GAYa NUSANTARA, seperti juga pada banyak kalangan akademik, dibedakan istilah “seks biologis” dari “gender,” yang dipahami sebagai dikonstruksi (dirajut) secara sosial-budaya. Istilah “jenis kelamin” dalam bahasa Indonesia mengacu kepada kedua hal itu sekaligus.


Apakah masyarakat mendikte jenis kelamin kita?

Bagi banyak intelektual, misalnya seperti teoretikus ahli gender Judith Butler, mewajibkan semua orang untuk memilih antara toilet “perempuan” dan “laki-laki” itu tidak masuk akal karena pada awalnya, tidak ada jenis kelamin.

Menurut cara pikir ini, jenis kelamin tidak berarti apa-apa sampai kita mulai menjalankan peran “jenis kelamin” tersebut melalui pakaian kita, cara kita berjalan, berbicara, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, memiliki penis tidak berarti apa-apa sebelum masyarakat mulai mengatakan bahwa jika anda memiliki penis, anda tidak dapat mengenakan rok (kecuali rok kilt Skotlandia).

Meskipun demikian, sebagian besar orang berbicara tentang jenis kelamin seakan semua orang di planet ini lahir secara pasti sebagai perempuan atau laki-laki. Teoretikus gender seperti Butler berdebat bahwa manusia terlalu kompleks dan beragam untuk memungkinkan tujuh miliar orang harus dipaksakan masuk ke dalam salah satu dari dua kubu tersebut.

Permasalahan ini terlihat paling jelas dalam bagaimana dokter mengobati anak yang lahir dengan jenis kelamin “tidak jelas” (misalnya, mereka yang lahir dengan sindrom insensitivitas androgen, hipospadias atau sindrom Klinefelter). Dalam kasus di mana jenis kelamin anak tidak jelas, dokter acapkali hanya bergantung pada ukuran alat kelamin—jika terlalu panjang, maka klitoris dapat dilabeli sebagai penis, atau sebaliknya. Pelabelan yang sewenang-wenang ini memaksa anak di bawah salah satu definisi jenis kelamin, daripada membiarkan anak tumbuh secara alamiah dengan tubuh mereka.

Gender dalam spektrum

Mungkin cara yang lebih berguna untuk melihat jenis kelamin adalah dengan melihatnya sebagai sebuah spektrum.

Meskipun semua masyarakat memiliki tingkatan dan keberagaman gender, dengan peran-peran khusus untuk perempuan dan laki-laki, ada juga masyarakat tertentu—atau, setidaknya, individu dalam masyarakat—yang memiliki pemahaman bernuansa terhadap hubungan antara seks biologis (tubuh fisik), gender (bagaimana budaya mengkonstruksi tubuh) dan seksualitas (tubuh seperti apa yang dihasratkan).

Meski sering tampil di berita untuk serangan teror dan eksekusi, Indonesia sebenarnya adalah negara yang sangat toleran. Bahkan, Indonesia adalah negara demokrasi terbesar keempat di dunia, dan lebih jauh lagi, tidak seperti North Carolina, Indonesia saat ini tidak memiliki kebijakan anti-LGBT. Selain itu, warga di Indonesia dapat memilih mencantumkan “transgender” (waria) pada kartu identitas mereka (meskipun dengan munculnya gelombang baru kekerasan terhadap orang-orang LGBT yang belum pernah terjadi sebelumnya, ini dapat berubah).

Suku Bugis adalah kelompok etnis terbesar di Sulawesi Selatan, berjumlah sekitar tiga juta orang. Kebanyakan orang Bugis adalah Muslim, tetapi ada banyak ritual pra-Islam yang terus dihormati dalam budaya Bugis, dan ini meliputi pandangan berbeda mengenai gender dan seksualitas.

Bahasa mereka menawarkan lima istilah yang merujuk pada berbagai paduan jenis kelamin, gender, dan seksualitas: makkunrai (“perempuan betina[²]”), oroani (“laki-laki jantan”), calalai (“laki-laki betina”), calabai (“perempuan jantan”) dan bissu (“imam transgender”). Definisi singkat ini tidak benar-benar tepat, tapi cukup menjelaskan.

Pada tahap awal penelitian S3, saya berdiskusi dengan seorang laki-laki, yang meskipun tidak menempuh pendidikan formal, adalah pemikir sosial yang kritis.

Saat saya sedang kebingungan bagaimana orang Bugis memahami seks biologis, gender, dan seksualitas, dia menunjukkan bagaimana saya salah dalam berpikir bahwa hanya ada dua jenis kelamin yang berbeda, perempuan dan laki-laki. Dia mengatakan kepada saya bahwa kita semua berada dalam spektrum:

Bayangkan seseorang ada di sini, di akhir garis, dan bahwa ia adalah, apa yang akan anda sebut sebagai, XX. Dan kemudian Anda bepergian di sepanjang garis ini sampai anda tiba di ujung yang lain, dan itu XY. Tapi di sepanjang garis ini, ada berbagai macam orang dengan berbagai macam susunan dan karakter yang berbeda.

Spektrum jenis kelamin ini adalah cara yang baik untuk berpikir tentang kerumitan dan keberagaman manusia. Ketika jenis kelamin dilihat melalui lensa ini, hukum North Carolina yang melarang orang menggunakan toilet yang mereka pilih menjadi terdengar sewenang-wenang, memaksa orang untuk masuk ke dalam ruang yang mungkin bertentangan dengan identitas mereka.


²Istilah “betina” dan “jantan” digunakan untuk membedakan seks biologis dari gender yang sosial- budaya (“perempuan” dan “laki-laki”).