Bahasa Binan

Setidaknya sejak tahun 1960-an di kalangan wadam/waria dan homo/gay digunakan bahasa khusus yang dikenal dengan nama Omong Cong atau Omong Ces, hingga saat ini yang diberi nama Bahasa Binan. Sebagian dari kata bahasa binan ini kemudian masuk ke dalam bahasa informal umum, seperti katanepsong, trimse’ kamse’, dan puncaknya saat ini dengan penggunaan begitu banyak kata Bahasa Binan dalam Bahasa Gaul. Di sini kami pasang uraian struktur tata bahasa (gramatika) Bahasa Binan supaya para pemula maupun masyarakat umum dapat belajar menuturkan Bahasa Binan dengan tepat. Artikel lengkapnya ada dalam Dédé Oetomo, Memberi Suara pada yang Bisu (Yogyakarta: Galang, 2001; Marwa, 2003), hal. 61-71.

Kamus Bahasa Gay


Download/unduh PDF Kamus Bahasa Gay, atau cek di sini.

Gramatika Bahasa Binan

Kata-kata bahasa binan dibentuk dengan dua proses, yakni (1) proses perubahan bunyi dalam kata yang berasal dari bahasa daerah atau bahasa indonesia; dan (2) proses penciptaan kata atau istilah baru ataupun penggeseran makna kata atau istilah (plesetan) yang sudah ada dalam bahasa daerah atau bahasa indonesia.

Sejauh yang kita ketahui, di kepulauan Nusantara ini tercatat adanya enam jenis proses pembentukan kata-kata bahasa binan.

Jenis yang pertama ditemui di Surabaya, Malang, Semarang, Solo, Yogyakarta dan kota-kota berbasis budaya Jawa lainnya, dan umumnya berupa perubahan bunyi terhadap kata-kata bahasa Jawa. Dari suatu kata dasar hanya sukukata pertamanya yang dipertahankan. Bilamana sukukata pertama berakhir dengan vokal, maka konsonan pertama sukukata berikutnya dipertahankan pula. Kemudian pada awal potongan itu ditambahkan awalan si-. Contohnya:

banci –> ban –> siban
lanang ‘laki-laki’ (Jawa) –> lan –> silan
wedok –> wed –> siwed
homo –> hom –> sihom

Jenis yang kedua dan ketiga ditemui di semua kota di Indonesia pada kalangan yang terpengaruh bahasa Indonesia Jakarta. Prosesnya adalah mengubah sukukata terakhir sehingga berakhir dengan -ong (jenis kedua) atau -es (jenis ketiga), dan mengubah bunyi/huruf vokal sukukata sebelumnya dengan e-(diucapkan [-è-]. Jenis kedua biasa dinamakan omong cong atau bahasa ong-ong, sedangkan jenis ketiga biasa dinamakan omong ces atau bahasa es-es. Jadi contohnya:

Laki –> lekong [lèkong] atau lekes [lekès]
homo –> hemong [hèmong] atau hemes [ hèmes]
banci –> bencong [bèncong] atau bences [bènces]

Penggunaan jenis -ong ataupun -es tidak mengikuti suatu kaidah yang pasti. Terkesan orang menggunakannya secara manasuka atau sembarang.

Sekitar pertengahan tahun 1990-an muncul varian yang mengganti bentuk akhir-ong atau -es itu dengan -i, meskipun pembentukan ini tidak seproduktif varian kedua dan ketiga. Maksudnya, apabila dengan proses transformasi gaya -ongdan -es praktis kata mana pun dapat dijadikan kata bahasa binan, dengan proses -i ini hanya sejumlah kata tertentu saja yang dapat dijadikan kata bahasa binan. Contoh proses transformasi ini: alih-alih mengatakan kentong atau kenti (sebagai transformasi dari kata kontol: ‘zakar, penis’), orang mengatakan kenti, atau bukannya lagi pentong (transformasi dari pantat melainkan penti)

Jenis yang keempat tampaknya hanya dipakai di Jakarta dan Bandung, setidaknya pada awalnya, namun dalam perkembangannya juga menyebar ke kota-kota lain. Prosesnya adalah penyisipan -in- sesudah konsonan awal sukukata-sukukata pada kata tertentu, sehingga kata menjadi dua kali lebih panjang. Kemudian kata yang panjang itu dipendekkan lagi. Contohnya:

bule –> binuline –> binul
lesbi –> linesbini –> lines
gay–> ginay

Jenis yang kelima mirip dengan jenis pertama, yaitu kata asal dipotong sehingga hanya tinggal sukukata pertama dan (kalau sukukata pertama berakhir dengan vokal) konsonan pertama sukukata berikutnya, kemudian ditambahkan akhiran-se’. Contohnya:

Homo –> hom –> homse’
Cina –> Cin —> Cinse’

Perlu dicatat bahwa di beberapa kalangan, kata se’ sendiri dipakai dengan makna ‘gay, homoseks.’

Kadang-kadang jenis ini digabungkan dengan kata-kata yang sudah ubah melalui proses -ong atau -es, seperti:
Dorong ‘semburit, sanggama dubur’ –> derong/deres–> derse’.

Akhirnya, masih ada lagi jenis yang keenam, yang konon berawal di Medan dan kemudian menyebar di semua kota-kota Indonesia. Jenis ini berupa pemertahanan suku kata atau bagian suku kata awal kata dasar, sementara selebihnya diubah sehingga seakan-akan kata lain. Contohnya:

Sundal –> sund —> sundari
enak –> en —> endang
sekali —> s —> sulastri
sudah —> su —> sutra
tidak —> ti —> tinta
emang –> em —> ember, embrong
sakit ‘gay,homoseks’ —> sak —> sakinah

Jenis yang inilah yang pada dekade 1990-an amat populer, berkembang pesat dan meluas di seantero Nusantara, dan kemudian dipakai sebagai bahasa gaul. Setiap komunitas waria atau gay senantiasa menciptakan sendiri kata-kata jenis ini, dan dari kunjung-mengunjungi maupun komunikasi melalui berbagai medium tesebar ke komunitas lain.

Selain itu masih ada kata-kata yang tidak dipakai sama sekali dalam bahasa masyarakat umum, seperti cucok ‘cakep,’ rumpik ‘sialan, penipu,’ bala-bala ‘bagi-bagi,’ atau kata-kata yang maknanya lain dari yang dipakai oleh umum, seperti racun ‘perempuan, isteri,’ jeruk ‘pemeras,’ kucing ‘pelacur laki-laki,’ ngebom ‘meledek,’ serta seruan-seruan panggilan seperti nek (tak diketahui asalnya, mungkinkah dari nenek?)

Kecuali kata-kata khas yang dipakai di dalam berbahasa daerah (semisal proses si- dalam berbahasa Jawa), jenis-jenis yang lima lagi dapat dan memang senantiasa dipakai berganti-ganti secara manasuka atau sembarang. Selain itu juga suatu hasil transformasi dari proses yang satu dapat mengalami transformasi lagi melalui proses yang lain, seperti yang kita lihat pada kasus kata dorong –> derong, deres—> derse’ tadi. Yang lain, umpamanya:

pura (bentuk dasar pura-pura) –> peres –> per —>persi
tidak —> ti —> tinta —> tin –> tintring
lumayan —> luma—> lumajang —> lumejong
silit ‘dubur (Jawa.)’ –> sil –> sisil —> sisilia
silit –> sil –> sisil –> susil –> susilo–> susilo sudarman

Ciri pembeda bahasa binan di atas peringkat tatabunyi dan kosakata adalah intonasi agak centil (atau sangat centil, bergantung pada penuturnya) dalam berbicara, serta juga pada sebagian penuturnya, kebiasaan latah yang sesungguhnya atau yang dibuat-buat.

Satu lagi ciri pembeda wacana pada bahasa binan adalah materi pembicaraan yang lebih lugas, bebas atau bahkan vulgar, seperti  penyebutan bagian-bagian dan cairan tubuh yang dilibatkan dalam hubungan seks (kenti: ‘zakar,’ susil atau penti: ‘dubur, pantat,’ pejong: ‘mani,’ dan sebagainya) serta perbuatan-perbuatan seksual (meong: ‘main, berhubungan seks,’ karaoke: ‘seks oro-genital, fellatio,’ cuci WC: ‘menjilati dubur, seks oro-anal,’dan sebagainya).