Seputar HIV & AIDS

Apa sih HIV itu?
HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia.

Berarti gampang kena penyakit dong kalau kekebalan tubuhnya berkurang?
Betul sekali, karena saat kekebalan tubuh seseorang berkurang maka tubuh orang tersebut tidak akan mampu lagi melindungi diri dari berbagai macam penyakit, sehingga penyakit apapun gampang masuk.

HIV attacks cell

Apa bedanya HIV dengan AIDS?
AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu sekumpulan gejala penyakit yang timbul akibat menurunnya sitem kekebalan tubuh manusia. Kekebalan manusia menurun, tadi sudah dijelaskan karena diakibatkan terserang virus HIV. Jadi jelas berbeda antara HIV dan AIDS.

Siapa saja sih yang bisa tertular HIV?
HIV menyerang manusia siapapun juga, tanpa membedakan usia, profesi, suku bangsa, orientasi seksual, status sosial dan perbadaan-perbedaan lainnya. Selama perilakunya berisiko terhadap penularan HIV, ada kemungkinan seseorang tertular HIV. Jadi tidak benar mitos yang mengatakan bahwa HIV hanya ditularkan oleh gay, waria, pekerja seks, pengguna narkoba suntik atau bule.

Katanya HIV bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk?
Itu tidak benar. HIV hanya ditularkan dari manusia satu ke manusia lainnya. Nyamuk atau binatang lainnya tidak menularkan HIV.

Lalu bagaimana proses penularan HIV tersebut?
Penularan HIV hanya bisa terjadi jika memenuhi prinsip ESSE, yaitu:

  • Exit : keluar cairan pembawa virus HIV dari tubuh orang yang terinfeksi HIV.
  • Survive : virus HIV tersebut masih hidup.
  • Sufficient : jumlah virusnya cukup untuk menularkan.
  • Enter : virusnya masuk ke dalam pembuluh darah orang lain.

Jadi virus HIV itu bisa mati ya?
HIV sangat rapuh dan cepat mati di luar tubuh manusia. HIV juga sensitif terhadap panas dan tidak kuat hidup pada suhu di atas 60 derajat Celcius.

Jumlah virus HIV harus cukup untuk penularannya, maksudnya?
Untuk tertular harus ada konsentrasi HIV yang cukup tinggi. Di bawah konsentrasi tertentu, tubuh manusia cukup kebal terhadap HIV sehingga tidak terjadi infeksi. Saat seseorang tertular HIV, maka HIV ada di seluruh cairan tubuh manusia seperti keringat, air ludah, air mata, darah, cairan sperma, cairan vagina, air susu ibu dan cairan lainnya. Hanya saja HIV yang ada di darah, caira sperma, cairan vagina dan air susu ibu yang mempunyai konsentrasi yang tinggi untuk penularan HIV, sedangkan cairan-cairan lainnya tidak.

Cara penularan HIV itu sendiri bagaimana?
Ada beberapa cara penularan HIV:

  • Melalui hubungan seksual yang berisiko tertular HIV dengan seseorang yang terinfeksi HIV.
  • Penggunaan jarum suntik/alat tindik/alat tatto/pisau cukur/silet yang tercemar HIV secara bergantian.
  • Transfusi darah yang tercemar HIV.
  • Ibu hamil yang ber-HIV menularkan kepada bayinya saat melahirkan dan menyusui.

Apakah bisa tertular HIV kalau berjabat tangan atau berpelukan?
HIV tidak menular melalui kontak-kontak sosial seperti berjabat tangan, bersentuhan, berpelukan, berciuman, tinggal serumah, menggunakan peralatan makan/minum bersama, berenang atau kontak-kontak sosial lain yang tidak menyebabkan terjadinya pertukaran cairan tubuh yang tercemar HIV.

Hubungan seksual yang berisiko tertular HIV itu seperti apa?
Yaitu hubungan seksual yang menyebabkan terjadinya pertukaran cairan tubuh yang tercemar HIV, misalnya penetrasi penis-anal (seks anal) dan penetrasi penis-vagina (seks vaginal) tanpa kondom. Karena dari penetrasi seksual tersebut dimungkinkan terjadinya perlukaan-perlukaan yang menjadi pintu masuk HIV. Hubungan seks oral juga menjadi berisiko apabila di mulut ada perlukaan-perlukaan yang bisa mengakibatkan masuknya HIV.

Kalau onani atau jepit paha tidak berisiko ya?
Onani, gesek-gesek alat kelamin, jepit paha, jepit susu dan perbuatan-perbuatan seksual lainnya yang tidak memungkinkan terjadinya pertukaran cairan tubuh yang tercemar HIV termasuk aman dan tidak berisiko untuk terjadinya penularan HIV.

Setelah HIV masuk ke tubuh seseorang apa gejala-gejalanya?
Orang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala apapun juga. Sehingga orang yang terinfeksi HIV sering terlihat sehat dan merasa dirinya sehat-sehat saja. Meskipun tampak sehat, orang dengan virus HIV sudah dapat menularkannya kepada orang lain. Jadi penampilan luar seseorang bukan jaminan bahwa dia bebas HIV.

Lalu kapan dong muncul gejala-gejalanya?
Perjalanan infeksi HIV dalam tubuh manusia sangatlah panjang melalui beberapa fase sebagai berikut:

  • Periode Jendela, yaitu masa antara masuknya HIV ke dalam tubuh hingga terbentuknya antibodi (zat tubuh untuk menangkal penyakit) terhadap HIV. Fase ini bisa menularkan HIV kepada orang lain walau hasil tesnya masih negatif. Fase ini antara 2 minggu – 6 bulan (3 bulan pada 95% kasus).
  • HIV Positip, yaitu fase tanpa gejala meski sudah terinfeksi HIV, tampak sehat dan dapat beraktivitas seperti biasa. Periode jendela adalah bagian dari fase ini, karena meski antibodi HIV belum terdeteksi tapi virus HIV sudah masuk ke dalam tubuh. Fase ini berlangsung rata-rata 3 – 10 tahun, masing-masing orang berbeda tergantung dari ketahanan tubuhnya.
  • AIDS, yaitu fase munculnya berbagai macam gejala-gejala karena semakin menurunnya kekebalan tubuh manusia.

Gejala-gejalanya sendiri seperti apa?
Pada fase AIDS timbul Infeksi Opportunistik yaitu penyakit-penyakit lain yang muncul karena sistem kekebalan tubuh menurun. Gejala-gejala yang ditimbulkan adalah sesuai dengan Infeksi Opportunistik tersebut. Beberapa gejala yang umumnya muncul pada fase AIDS adalah:

  • Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan.
  • Diare kronis lebih dari 1 bulan (berulang atau terus-menerus).
  • Penurunan berat badan lebih dari 1/10 dalam waktu 3 bulan.
  • Batuk kronis selama lebih dari 1 bulan.
  • Infeksi jamur pada mulut dan tenggorokan (Candida Albicans).
  • Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh badan.
  • Munculnya Herpes Zoster (herpes kelamin) berulang-ulang.
  • Bercak-bercak gatal di seluruh badan.
Candida Albicans

Namun apabila melihat orang dengan gejala-gejala tersebut bukan berarti orang tersebut pasti AIDS, perlu dibuktikan dulu kebenarannya.

Bagaimana cara mengetahui atau membuktikan seseorang ber-HIV atau tidak?
Status HIV seseorang hanya dapat diketahui melalui Konseling & Testing HIV Sukarela (KTS) atau yang lebih dikenal dengan istilah Voluntary Counselling & Testing (VCT). Pengambilan darah untuk mengetahui status HIV ini disertai konseling pra dan pasca testing HIV. VCT dilakukan dengan prinsip tanpa paksaan, rahasia, tidak membeda-bedakan serta terjamin kualitasnya. Manfaat dari VCT sendiri selain untuk mengetahui status HIV, juga untuk mendapatkan informasi, pelayanan dan perawatan sesuai kebutuhan masing-masing sedini mungkin. Juga untuk mendukung perubahan perilaku yang lebih sehat dan aman dari penularan HIV.

VCT

Apakah sudah ada obatnya untuk orang yang sudah terinfeksi HIV?
Ada obat untuk HIV yaitu Anti Retro Viral (ARV), namun obat ini hanya untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah HIV dan meningkatkan daya tahan tubuh untuk memperpanjang kemungkinan usia hidup seseorang yang terinfeksi HIV. Jadi ARV belum bisa untuk membunuh atau menghilangkan HIV dari tubuh seseorang. Orang yang minum obat ARV akan melakukannya seumur hidup secara rutin setiap harinya pada jam-jam tertentu sesuai dengan petunjuk tenaga medis yang mendampinginya.

ARV

Dengan mengetahui cara penularan HIV ini otomatis kita bisa mencegahnya donk?
Benar sekali, HIV dapat dicegah dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berisiko terhadap penularan HIV, yaitu:

  • Tidak melakukan hubungan seks sama sekali.
  • Bersikap saling setia untuk pasangan yang mempunyai riwayat hidup ‘bersih’ dari HIV.
  • Melakukan hubungan seksual yang tidak berisiko terhadap penularan HIV, misalnya onani/masturbasi, jepit paha, seks anal/seks vaginal/seks oral menggunakan kondom dan pelicin berbahan dasar air dll.
  • Tidak menggunakan jarum suntik/alat tindik/alat tatto/pisau cukur/silet yang tercemar HIV secara bergantian.
  • Tidak melakukan transfusi dari yang tercemar HIV.
  • Ibu yang ber-HIV dapat mengikuti program PMTCT (Prevention Mother To Child Transmition) untuk menghindari penularan pada bayinya.
  • Memberikan edukasi tentang informasi HIV & AIDS kepada sesama.

Condom

(Ko Budijanto, dari berbagai sumber)