Tafsir Progresif Islam & Kristen Terhadap Keragaman Gender dan Seksualitas

Buku ini dibuat sebagai bagian dari upaya bersama yang dilakukan oleh para pemimpin antaragama untuk memberikan panduan bagi orang-orang LGBTI dalam menemukan interpretasi agama yang lebih humanistik dan adil bagi kelompok-kelompok LGBTI; merangkul dan meyakinkan, tidak mengancam dan menakutkan.


Diharapkan bahwa interpretasi lebih segar dan progresif ini dapat membantu orang LGBTI untuk lebih memahami dan menyetujui diri mereka sebagai bagian dari ciptaan Tuhan sehingga mereka dapat melihat dan menghargai berbagai keunikan dan keindahan masing-masing.


Buku ini berisi sembilan diskursus penting LGBTI yang mengupayakan penafsiran ulang dari perspektif antaragama yang progresif. Topik-topik ini dianggap sebagai wacana penting untuk ditinjau karena sering digunakan sebagai landasan untuk berbagai argumen keagamaan untuk membenarkan doktrin kebencian terhadap komunitas LGBTI.


Sembilan topik tersebut adalah:
(1) Memeriksa Ulang Label Pendosa
(2) Benarkah Semua Ciptaan Tuhan adalah Biner?
(3) Homoseksualitas sebagai Realitas
(4) Menafsirkan Konsep Prokreasi
(5) Untuk Memuaskan Kebutuhan Seksual
(6) Ekspresi Gender sebagai Fitrah
(7) Pemurnian
(8) Menafsirkan Kembali Kisah Sodom dan Gomora atau Rakyat Lut
(9) Menggambarkan Pengabdian dan Iman


Buku ini bertujuan untuk memberikan tanggapan progresif interpretasi gagasan agama klasik yang cenderung menstigmatisasi LGBTI secara negatif. Diharapkan bahwa interpretasi-interpretasi baru ini dapat memberikan pengetahuan dan pencerahan kepada pihak-pihak terkait sehingga mereka dapat melihat bahwa suatu agama bukanlah legitimasi untuk membatasi, mengintimidasi, menganiaya dan menghakimi perilaku, sebaliknya, agama menandakan pembebasan dan memberikan keadilan bagi yang tertindas dan yang terabaikan.

Klik di sini untuk mengunduh buku ini dalam Bahasa Indonesia dan di sini dalam Bahasa Inggris.

PRIDE at work

PRIDE at work adalah sebuah studi mengenai diskriminasi di tempat kerja berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender di Indonesia. Laporan ini didasarkan pada penelitian yang dilaksanakan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada atas nama ILO pada tahun 2014.

Link menuju PRIDE at work

Modul Program “GAY KEREEEN: Gay yang Pede, Berani, Sehat dan Ceria”

Modul Program “GAY KEREEEN: Gay yang Pede, Berani, Sehat dan Ceria” ini bertujuan untuk memberdayakan orang-orang gay dengan cara bermain tapi juga serius belajar.

Didasarkan pada modul asalnya dari Australia, “Gay Now!” yang banyak digunakan pada tahun 1990-an, versi Indonesia ini awalnya diterjemahkan oleh Marcel Latuihamallo (IPOOS, Jakarta), kemudian disunting oleh sebuah tim dari GAYa NUSANTARA yang terdiri dari Ahmad Zainul “Inung” Hamdi, Poedjiati Tan, Sardjono Sigit dan Rafael Hendrikus “Vera Cruz” Da Costa, di bawah koordinasi Dédé Oetomo dengan bantuan Nur Agustinus dan Tonny.

Para aktivis gay dipersilakan menggunakan dan mengunduh modul ini, dengan permohonan agar memberitahu kami melalui email, dapat dengan komentar dan kritik.

Modul Gay Keren
Klik gambar untuk membaca online

Charting Gay Politics in Indonesia. Sebuah buku pra-Lambda

Ketika mempersiapkan pendirian Lambda Indonesia pada awal 1980-an, Dédé Oetomo menuliskan pikiran-pikiran dan visinya tentang suatu Indonesia di mana orang gay (waktu itu belum ada akronim LGBTIQ) dapat hidup dengan sejahtera dan setara dengan orang lain.

Atas jasa baik Penasihat GAYa NUSANTARA, Tom Boellstorff, kami unggah makalah itu untuk bahan pemikiran kita sekarang.

Klik disini untuk membaca secara online

Analisa Baseline Study Stigma dan Diskriminasi LGBT di 5 Kota Besar Indonesia

Dokumen ini merupakan hasil analisa dari kegiatan baseline study tentang stigma dan diskriminasi di masyarakat terhadap LGBT yang dilakukan melalui proses focus group discussion (FGD) bersama dengan masyarakat yang berada pada 5 kota besar di Indonesia: Yogyakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, dan Surabaya.

Tujuan dari study ini adalah untuk memperkuat program advokasi jaringan nasional GWL-INA melalui pengidentifikasian pandangan masyarakat, baik terhadap komunitas LGBT maupun terhadap stigma dan diskriminasi pada komunitas LGBT, serta mengembangkan program bagi GWL-INA untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap komunitas LGBT.

Di bawah ini merupakan hasil serta pembahasan yang meliputi karakteristik subjek penelitian, pemahaman masyarakat mengenai HAM, pemahaman dan pengalaman masyarakat terhadap komunitas LGBT, serta pandangan masyarakat terhadap HAM pada komunitas LGBT.

Klik disini untuk melihat hasil laporan ini secara online. Silahkan menghubungi kami jika ingin mengunduh laporannya.

Laporan Indonesia Program Being LGBTI in Asia Fase 1

Klik gambar untuk mengunduh, 2.1MB

Klik gambar untuk mengunduh, 2.4MB

Being LGBTI in Asia atau Menjadi LGBTI di Asia adalah program regional yang bertujuan untuk mengurangi ketimpangan dan marginalisasi atas dasar orientasi seksual dan identitas gender (SOGI).

Program ini merupakan kerjasama dengan masyarakat sipil, dan mengikutsertakan lembaga-lembaga nasional dan regional untuk memajukan hukum protektif dan kebijakan-kebijakan, serta memberdayakan masyarakat sipil. Program ini mendukung kebijakan dan penelitian operasional, dan pengembangan strategi antara kelompok-kelompok rentan dan berbagai pemangku kepentingan utama di tingkat nasional dan regional.

Program ini mengakui bahwa populasi LGBTI tertentu, termasuk lesbian, gay, waria, priawan dan interseks, menghadapi berbagai pengalaman tergantung pada identitas dan ekspresi gender, serta konteks sosial budaya mereka yang beragam.

Laporan ini mengulas lingkungan hukum dan sosial yang dihadapi kelompok lesbian, gay, biseksual, waria, priawan dan interseks (LGBTI) di Indonesia. Laporan ini merupakan hasil Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Indonesia pada bulan Juni 2013. Dialog menghadirkan 71 peserta dari 49 lembaga yang mewakili keseluruhan keragaman organisasi LGBT di Indonesia, di samping wakil-wakil pemerintah pusat, lembaga hak asasi nasional, lembaga donor, perguruan tinggi, lembaga nonpemerintah untuk hak asasi manusia, organisasi bantuan hukum dan organisasi masyarakat madani, serta beberapa tokoh agama. Dialog diselenggarakan oleh United Nations Development Programme (UNDP) bersama United States Agency for International Development (USAID) sebagai mitra kerja.

 

Gays in Indonesia

Saat gerakan gay Indonesia mulai dengan berdirinya Lambda Indonesia, kawan2 gay, lesbian dan trans di Australia, yang a.l. aktif dalam menerbitkan Gay Community News, menyambut kita dengan hangat dan penuh semangat. Di antara mereka, Mbak Helen Pausacker sampai sekarang masih berhubungan dengan kita di GAYa NUSANTARA, dan menjadi salah satu penasihat kita. Helen dkk. mengumpulkan kliping yang kita kumpulkan sebagai kerja Lambda Indonesia, dan menerjemahkannya sebagai Gays in Indonesia (1984).

Gays in Indonesia cover(Download buku Gays in Indonesia, 4 MB)

Fiqh Seksualitas

Fiqh Seksualitas: Risalah Islam untuk Pemenuhan Hak-hak Seksualitas

Penulis : Kyai Husein Muhammad | Siti Musdah Mulia | Kyai Marzuki Wahid
Kontributor : Roy Tjiong | Mukhotib MD | Inne Silviane | Nanang Munajat | Farid Husni | Ramonasari | Chatarina Wahyurini | Priya Subroto | Yahya Ma’shum | Erry H Kamka
Proofreader: Maezur Zacky
ISBN: 978-979-3807-28-7

Download PDF buku ini

”Kami ingin menjadi Muslim yang baik, tetapi kami merasa seperti ditelantarkan diluar rumah agama kami. Dalam kongres internasional gay, kami meminta disediakan tempat untuk sholat, panitia sangat menghormati ketaatan kami beragama dengan menyediakan space khusus, tetapi tidak berlaku sebaliknya, kami tidak akan diberi space di komunitas agama kami”. Kurang lebih demikian ungkapan reflektif seorang kawan gay, intelek dan religious yang saya temui sekitar tahun 2005.

Kajian ini menjawab kegelisahan umat, baik kawan-kawan komunitas dengan orientasi seksual diluar mainstream, membongkar isu seksualitas yang banyak rambu dan tabu, menawarkan pendekatan dan pensikapan agama berbasis konteks dengan penelusuran yang komparatif, agar dasar argumentasinya lebih mengedepan daripada kesimpulan-kesimpulan dogmatik yang siap saji.

Lanjutkan membaca “Fiqh Seksualitas”