Surat Seorang Gay kepada Ibu-Ibu di Indonesia

Beberapa waktu lalu kami dikenalkan oleh seorang teman asli Surabaya tapi tinggal di Amerika ke seorang anak remaja yang sedang dalam proses mencari informasi tentang ke-gay-annya. Anak ini sangat berbeda dari anak seumurannya. Dari gaya chat-nya melalui Line terlihat bahwa anak ini penuh dengan rasa ingin tahu dan sudah banyak membaca tentang isu seksualitas. Yang membuat kami merasa bangga adalah dia sudah terbuka ke semua teman termasuk guru sekolahnya.
Ada cerita yang cukup lucu terjadi setelah kami memberikan buku berjudul Coming Out karya Hendri Yulius ke anak ini. Bukunya diletakkan begitu saja di dalam rumah dan tidak sengaja dibaca oleh Ibunya, padahal kami sudah mewanti-wanti untuk berhati-hati agar bukunya tidak dibaca oleh orang lain. Bukannya kami tidak ingin dia terbuka kepada keluarganya, tapi mengingat dia masih sangat muda dan masih bergantung secara ekonomi ke keluarga, khawatirnya proses pencarian jati dirinya akan terhalang. Alhasil, sekarang Ibunya sudah mengetahui dan menerima orientasi seksual anaknya.
Dari pengalaman kami itu, kami jadi teringat dengan salah satu artikel yang berjudul Surat Seorang Gay kepada Ibu-ibu Indonesia di buku Memberi Suara pada yang Bisu karya Dede Oetomo.
Berikut kutipannya:

SURAT SEORANG GAY

KEPADA IBU-IBU Dl INDONESIA

Ibu-ibu yang tercinta.

Rasanya telah lama saya ingin berbicara dari hati ke hati dengan Ibu-ibu. Saya ingin berbicara sebagai seorang anak kepada ibunya yang dicintainya. Sebagai seorang anak yang menganggap tugas seorang ibu mendidik anaknya adalah tugas yang teramat suci dan mulia. Dengan makin berkembangnya dunia tempat kita hidup ini, tugas suci dan mulia itu makin lama makin rumit, karena perkembangan berarti perubahan, baik yang lambat maupun yang mendadak. Hal-hal yang sebelumnya dianggap mapan dan mantap tiba-tiba tergoyah dan tergoncang. Dan terbukalah kemungkinan-kemungkinan baru, yang bisa membawa kesempatan emas, namun kadang-kadang juga bisa membawa malapetaka kalau kita tidak bersikap hati-hati. Continue reading “Surat Seorang Gay kepada Ibu-Ibu di Indonesia”

Pernyataan Terkait Razia Satpol PP Kota Surabaya

Pernyataan terkait razia yang dilakukan oleh Satpol PP Kota Surabaya 12 Maret 2016

Pada hari Sabtu tanggal 12 Maret 2016, pukul 21:00 -22:00 WIB bertempat di Jalan Kangean (yang popular dinamakan Pataya oleh komunitas gay) ada Operasi Yustisi atau pemeriksaan identitas oleh tim Satpol PP Kota Surabaya berjumlah 20 orang. Sejumlah 8 orang gay yang terkena razia saat itu, dikarenakan tidak memiliki identitas. Yang dimaksud dengan identitas adalah orang yang tinggal di Kota Surabaya harus memiliki KTP Surabaya atau KIPEM bagi yang musiman.
Akibatnya, ada 8 orang yang terjaring razia digiring ke markas Satpol PP Kota Surabaya di Jalan Jaksa Agung Suprapto. Namun dalam interogasi petugas Satpol PP yang terjadi dilokasi TKP maupun kantor Satpol PP sangat berbeda. Dimana menganggap bahwa sekelompok orang yang berkumpul di dalam Pataya dalam situasi yang gelap pasti melakukan prostitusi sesama jenis seperti informasi yang pernah beredar.

Continue reading “Pernyataan Terkait Razia Satpol PP Kota Surabaya”

Donasi

GAYa NUSANTARA sudah berdiri selama 29 tahun, dan kami masih ingin terus memperjuangkan apa yang menjadi hak teman-teman LGBTIQ di Indonesia.

Sudah banyak sekali dukungan yang telah diberikan kepada kami selama ini, baik itu berupa ide gerakan, tulisan, tenaga, dan uang dari Indonesia dan luar negeri.

Untuk terus dapat bergerak maju, GAYa NUSANTARA masih membutuhkan bantuan teman-teman.

Dukungan dapat ditujukan ke rekening:
BNI 0046219611, cabang UNAIR
a/n GAYa NUSANTARA

Jika mempunyai PayPal dan kartu kredit, anda dapat berdonasi melalui tombal dibawah

Donate