Surat Seorang Gay kepada Ibu-Ibu di Indonesia

Beberapa waktu lalu kami dikenalkan oleh seorang teman asli Surabaya tapi tinggal di Amerika ke seorang anak remaja yang sedang dalam proses mencari informasi tentang ke-gay-annya. Anak ini sangat berbeda dari anak seumurannya. Dari gaya chat-nya melalui Line terlihat bahwa anak ini penuh dengan rasa ingin tahu dan sudah banyak membaca tentang isu seksualitas. Yang membuat kami merasa bangga adalah dia sudah terbuka ke semua teman termasuk guru sekolahnya.
Ada cerita yang cukup lucu terjadi setelah kami memberikan buku berjudul Coming Out karya Hendri Yulius ke anak ini. Bukunya diletakkan begitu saja di dalam rumah dan tidak sengaja dibaca oleh Ibunya, padahal kami sudah mewanti-wanti untuk berhati-hati agar bukunya tidak dibaca oleh orang lain. Bukannya kami tidak ingin dia terbuka kepada keluarganya, tapi mengingat dia masih sangat muda dan masih bergantung secara ekonomi ke keluarga, khawatirnya proses pencarian jati dirinya akan terhalang. Alhasil, sekarang Ibunya sudah mengetahui dan menerima orientasi seksual anaknya.
Dari pengalaman kami itu, kami jadi teringat dengan salah satu artikel yang berjudul Surat Seorang Gay kepada Ibu-ibu Indonesia di buku Memberi Suara pada yang Bisu karya Dede Oetomo.
Berikut kutipannya:

SURAT SEORANG GAY

KEPADA IBU-IBU Dl INDONESIA

Ibu-ibu yang tercinta.

Rasanya telah lama saya ingin berbicara dari hati ke hati dengan Ibu-ibu. Saya ingin berbicara sebagai seorang anak kepada ibunya yang dicintainya. Sebagai seorang anak yang menganggap tugas seorang ibu mendidik anaknya adalah tugas yang teramat suci dan mulia. Dengan makin berkembangnya dunia tempat kita hidup ini, tugas suci dan mulia itu makin lama makin rumit, karena perkembangan berarti perubahan, baik yang lambat maupun yang mendadak. Hal-hal yang sebelumnya dianggap mapan dan mantap tiba-tiba tergoyah dan tergoncang. Dan terbukalah kemungkinan-kemungkinan baru, yang bisa membawa kesempatan emas, namun kadang-kadang juga bisa membawa malapetaka kalau kita tidak bersikap hati-hati.

Masalah yang Makin Terbuka

Akhir-akhir ini di media massa Indonesia semakin gencar dibicarakan masalah homoseksualitas yaitu kehidupan para gay dan lesbian, serta keragaman seksual pada umumnya (yaitu jenis-jenis seksualitas yang tidak diakui dalam tata masyarakat tradisional yang menganggap pernikahan sebagai satu-satunya institusi seksual yang sah). Mungkin orang beranggapan bahwa kini, makin banyak terdapat kaum lesbian dan gay di tanah air kita. Tapi ini kurang tepat sebetulnya, karena baik lesbian maupun gay selalu ada sejak dulu kala dan selalu akan ada selama ada manusia di muka bumi ini. Kalau kita mengamati sejarah, di Yunani Purba bahkan perilaku homoseks merupakan bagian manunggal dari kehidupan seks masyarakat. Dua orang antropolog, Clellan S. Ford dan Frank A. Beach, pernah mengadakan survai terhadap 76 masyarakat masakini dan menemui bahwa dalam 64% dari sampel mereka: “kegiatan homoseks dalam satu atau lain bentuk dianggap normal dan diterima oleh masyarakat untuk anggota-anggota masyarakat tertentu.” Tidak usah jauh-jauh, dibeberapa suku di Indonesia, misalnya pada suku Toraja di Sulawesi, konon jabatan pemimpin agama hanya bisa dipegang oleh seorang pria yang tidak menyentuh wanita dan jelas-jelas bersifat homoseks serta berpakaian wanita. Dengan kata lain adanya kaum lesbian dan gay di masyarakat di mana pun, baik secara tertutup maupun secara terbuka, tak dapat dipungkiri lagi.

Tapi mungkin pula Ibu bertanya, bukankah homoseksualitas itu penyakit? Nah, ternyata sudah sejak tahun 1935 Sigmund Freud, bapak psikologi modern itu, menulis bahwa homoseksualitas …bukan sesuatu yang patut dipermalukan, bukan kejahatan, bukan sesuatu yang keji, dan tidak dapat digolongkan sebagai penyakit.” Kemudian banyak murid-muridnya yang menentang pendapat ini, namun mereka mendasarkan pendapat mereka pada studi terhadap pasien-pasien sakit jiwa. Dr. Evelyn Hooker mengadakan studi untuk Lembaga Kesehatan Jiwa Nasional AS pada tahun 1960-an, di mana ia menguji kelompok-kelompok heteroseks (mereka yang mencintai lawan jenis) dan homoseks, dan ternyata tidak melihat perbedaan diantara kedua kelompok itu dalam hal kemampuan berfungsi, stabilitas dan kreativitas. Dan akhirnya pada tahun 1973 Himpunan Psikiatri Amerika mencabut homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa.

Diresolusikan bahwa homoseksualitas itu sendiri tidak mengurangi kemampuan mengambil keputusan, stabilitas, atau kemampuan-kemampuan sosial atau ketrampilan pada umumnya. Pada tahun 1975 menyusul Himpunan Psikologi Amerika membuat resolusi yang serupa. Dr. George Weinberg malah menyatakan bahwa mereka yang merasa takut, marah atau jijik terhadap homoseksualitas yang perlu perawatan. Memang ada ahli-ahli ilmu jiwa yang berusaha merubah seorang homoseks menjadi heteroseks. Dan memang ada pula beberapa yang berhasil diubah perilakunya. Tapi tidak ada bukti yang mendokumentasikan perubahan ini selama lebih lima tahun. Dan tidak ada bukti bahwa perasaan homoseks atau pengarahan seksual yang pokok bisa diubah.

Dan mengapa sesuatu yang indah harus diubah? Seorang lesbian atau gay yang jujur akan mengakui bahwa rasa cinta mereka kepada sesama jenis itu indah dan murni, seperti cinta dalam bentuk apapun. Apa salahnya mencintai sesama manusia?

Ibu….

Saya berbicara dengan lbu ini sebagai seorang yang sejak kecil sudah merasakan ketertarikan kepada sesama laki-laki. Dan saya selalu menganggap diri saya beruntung dibesarkan di dalam keluarga yang penuh kasih sayang dan pengertian, sehingga saya bisa mencurahkan seluruh isi hati saya kepada ayah-ibu maupun saudara-saudara saya. Dalam hubungannya dengan latar belakang keluarga dan homoseksualitas, seorang penulis terkemuka, Nani Pribadi, mengemukakan, “Mau tidak mau kita harus berpaling lagi, meneliti keluarga masing-masing. Sudahkah beres keadaannya, sudah semestinyakah kita memperlakukan putra-putri kita sebagaimana yang dituntut anak-anak terhadap orang tua mereka?”

Yang dianjurkan oleh penulis kita itu jelas hal yang amat terpuji. Akan tetapi dari uraian di atas kita tahu bahwa homoseksualitas ada di mana-mana dan dalam segala zaman, sehingga tidak mustahil putra-putri lbu ada yang bersifat lesbian atau gay. Namun dalam anjuran tadi tersirat bahwa hal itu tak mungkin terjadi dalam keluarga yang sejahtera dan rukun.

Lalu, bagaimana dengan keluarga saya? Waktu saya pertama kali mengeluhkan sifat homoseks saya kepada ayah ibu saya, jelas kami semua merasa pedih. Untungnya ayah-ibu saya dengan bijaksana menganggap bahwa keutuhan keluarga dan rasa kekeluargaan jauh lebih penting, sehingga mereka menolong saya dengan penuh cinta kasih. Dan ahli yang kami hubungi waktu itu mengemukakan teori Freud tentang perkembangan seksualitas pada anak, dan akibatnya ayah-ibu saya merasa bersalah, seakan-akan karena kesalahan merekalah saya jadi bersifat homoseks.

Untunglah studi yang paling mutakhir tentang berkembangnya pilihan seksual, hetero maupun homo, yang dilakukan selama 10 tahun lebih oleh sebuah tim seksolog dari Lembaga Riset Seks Alfred C. Kinsey di AS, mendapati bahwa pengaruh orangtua maupun masyarakat tidak berarti dalam pembentukan pilihan seksual. Ini berarti bahwa apa pun yang dilakukan oleh orangtua, bilamana seseorang memang tumbuh dengan sifat mencintai sesama jenisnya, walau bagaimanapun juga ia akan bersifat demikian. Jadi orangtua bisa merasa lega, karena bukan merekalah yang bersalah kalau putra putrinya ada yang bersifat mencintai sesama jenis.

Dan syukurlah dengan penalaran yang seksama terhadap studi-studi yang paling teliti dan mutakhir tentang homoseksualitas, dan berdasarkan pengamatan saya terhadap gerakan sosio-politik lesbian dan gay di pelbagai benua, terutama di Amerika Utara, saya akhirnya berhasil menerima sifat gay saya dengan apa adanya, malah dengan perasaan bangga karena saya mencapai kesadaran itu dengan jalan yang tidak mudah, dan karena saya berhasil menangani kehidupan saya sendiri.

Jadi, apabila anjuran tadi kita ambil intisarinya, dan dengan memperhatikan penemuan ilmu pengetahuan yang mutakhir, ibu yang bijaksana semestinya mencurahkan cinta kasihnya sedemikian rupa sehingga apabila ternyata ada putra putrinya yang kebetulan bersifat mencintai sesama jenis, mereka bisa segera dibantu untuk menerima keadaannya dengan tabah dan optimis. Keutuhan keluarga tentunya menjadi idaman setiap ibu. Tak ada gunanya menyalahkan dan menghakimi si putra atau putri, karena dia bersifat gay atau lesbian bukan atas kehendaknya sendiri. Pendapat-pendapat mutakhir menunjukkan bahwa pilihan seksual ini mungkin malah sudah terbentuk sejak dini sekali, sekitar usia 2 tahun.

Dan tidak ada gunanya menutup-nutupi adanya kaum lesbian dan gay di masyarakat. Seperti kata orang, anak masakini makin cerdas, dan mereka tidak dapat dikelabui. Persoalannya sekarang bagaimana menjuruskan mereka ke arah kehidupan lesbian atau gay yang sehat, apabila memang mereka bersifat demikian. Dan justru untuk menghindari bahwa bahaya dari mereka yang tidak bertanggungjawab, saya berpendapat bahwa putra putri Ibu perlu tahu adanya kaum lesbian dan gay yang berniat jahat, sebagaimana juga ada kaum heteroseks yang berniat jahat.

Karena itulah saya rasakan pentingnya visi yang benar dan tidak menghakimi tentang homoseksualitas dimasukkan sebagai bagian manunggal dari pendidikan seks pada umumnya. Sudah bukan rasanya lagi kita tutup-tutupi seksualitas, yang merupakan salah satu fungsi manunggal dari manusia.

Ibu….

Sekarang tiba saatnya kita harus, membicarakan langkah-langkah kongkret apa yang harus kita ambil untuk membantu putra putri Ibu seandainya ternyata ada yang mencintai sesama jenis. Setelah Ibu pikirkan dengan kepala dingin, Ibu sudah bisa menerimanya apa adanya. Kalau dia sudah punya teman-teman yang sesifat, mudah saja. Pokoknya ibu hanya tinggal mengawasi supaya pergaulan mereka tidak kelewat batas. Jangan sampai dia jatuh ke tangan unsur-unsur masyarakat yang tidak bertanggung jawab, yang bisa membahayakan dirinya.

Akan tetapi selain cinta dari orangtua dan keluarga, penting sekali bahwa seorang lesbian atau gay mendapatkan dukungan moral dari sesamanya, terutama supaya dia menjadi orang lesbian atau gay yang berpandangan optimis dan berkehidupan jiwa yang sehat. Sayang sekali di Indonesia belum banyak buku buku tentang homoseksualitas untuk remaja, bahkan untuk masyarakat umum pun belum ada yang dalam bahasa Indonesia. Untung kalau putra-putri lbu bisa membaca bahasa Inggris.

Atau kalau putra atau putri Ibu itu senang surat-menyurat, bisalah dia dianjurkan mencari sahabat pena yang sesifat dengan cara memasang iklan mini, misalnya. Hanya saja, sebaiknya memakai alamat dengan kotak pos, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Di masa mendatang, mungkin akan ada perkumpulan-perkumpulan lesbian dan gay yang bersifat sosial, yang bisa merupakan wadah yang sehat bagi pertumbuhan kepribadian seorang lesbian atau gay. Tapi sementara ini, dengan kemudahan yang ada di Indonesia, saya kira hanya itulah yang bisa dilakukan sejauh ini.

Kecuali kalau Ibu senang berorganisasi dan berminat besar untuk mengorganisir remaja-remaja yang sesifat dengan putra atau putri lbu. Di beberapa negara Barat sudah banyak organisasi semacam ini, dan saya kira di Indonesia mungkin saja. Tentunya ini berdasarkan cinta kasih lbu kepadanya. Dan bukankah asal mula dari sifat lesbian dan gay itu adalah rasa cinta-kasih?